Kembali saya menginjakan kaki di wilayah Sumatera Utara. Terbang dari Pekanbaru ke Medan memakan waktu 1 jam 5 menit.  Cuaca Bandara Kuala Namu tgl 30 maret kemarin terang namun tak lama mendung menggelayut. Suhu rata-rata 31″ celcius. Roda pesawat JT 125 agak keras menghentak saat menyentuh landasan. Ibu sepuh yang duduk di seat sebelah jendela sedikit terkejut lalu berucap syukur alhamdulillah.

Iskandar sudah menunggu di pintu kedatangan. Segera kami meluncur ke arah Tebing Tinggi sebuah kawasan sentra walet lama. Perjalanan darat sekitar 1.5 jam, kami menjajal jalan Tol baru sepanjang 30 meter menghubungkan Medan-Lubuk Pakam. Mobil melaju 100 km/ jam.  Selepas melewati mulusnya jalan tol selanjutnya kami melewati jalan lama yang  padat pengguna.

Beberapa truk pengangkut kelapa sawit berjalan beriringan membuat mobil yang kami tumpangi repot menyalip. Dan lalu lintas tersendat di perempatan kecil Sei Rampah.

Akhirnya sampai juga ke kota walet lama Tebing Tinggi.

Pemandangan kota berupa gedung walet yang berjejal berdesak desakan tinggi jangkung semuanya berlomba berebut walet.

Di sepanjang kanan kiri sungai tengah kota juga tampak bangunan walet ukuran besar dengan LMB yang lebar.

Beberapa tahun sebelumnya saya sering melintas kota Tebing Tinggi dalam perjalanan menuju sentra walet Perdagangan dan Pematang Siantar membantu gedung non produktif milik Kristian. Semua saran saya diterapkan dengan benar.

Hasilnya Alhamdulillah. Sekarang dua gedung tersebut sudah produktif. Kristianpun bisa tertawa lebar karena menang bersaing di tengah kompetisi ketat berebut koloni walet.

Setelah makan siang di warung Padang kami menuju lokasi di Seilanggei, Bandar Marsilam, Kab. Simalungun. Gedung ukuran paket hemat 4 x 12 tinggi 3 lantai. Bagian depan bekas toko bangunan yang sedang dipugar karena terbakar habis saat malam Natal tahun lalu.

Gedung waletnya masih utuh, namun musibah malam itu, api yang melahap toko membuat pintu besi gedung walet sampai terlepas.

Kobaran api membuat gedung walet terasa membara. Akibatnya ratusan walet mati di dalamnya.

Sebelum musibah kebakaran terjadi, gedung walet ini lumayan produktif. Usia gedung sudah 18 tahun dibangun sejak th 2000.

Sekarang anak muda ini memulai lagi memanggil walet dari awal. Roda memang berputar. Rejeki sudah diatur oleh Sang Pengatur. Dan kita wajib untuk terus berusaha maksimal dan jangan lupa berdoa agar rejeki kita diatur lancar.

Iskandar meminta saya untuk membantu agar populasi waletnya cepat berkembang dan kembali produktif seperti dulu, meskipun semua itu tetap melewati proses waktu.

Saya masuk ke dalam gedung walet ini. Saya amati seksama. Semuanya ada 3 lantai. Lebar void 4 m x 4 m. Tinggi ruang bawah 4 m. Suhu dan kelembapan sudah memenuhi syarat. Ada beberapa ekor walet yang terganggu lalu terbang keluar, tapi itu tidak jadi masalah. Saya lihat ada beberapa biji sarang menempel di papan sirip. Saya periksa lantai, terlihat tumpukan tai walet.

Kemudian saya naik ke Lantai 2.  Tinggi ruang 4 m. Suhu dan kelembapan juga sudah cukup baik. Ini terbukti koloni walet sudah

menginap dan bersarang.  Saya lanjut naik ke lantai 3. Tinggi ruang 2,5 m. Kondisinya ..alamaaak .. jauh berbeda dengan dua lantai di bawah. Ruang lantai atas ini suhu mencapai 31’C.  Keringat saya bercucuran membasahi kaos. Berulang kali saya menyeka keringat yang membasahi muka.

Saya jelaskan bahwa walet tak suka kondisi suhu yang tinggi begini.

Saya tunjukan bahwa sebenarnya banyak walet yang masuk ke ruang atas. Namun tak betah lama lalu keluar. Buktinya, kotoran walet banyak menempel pada dinding bukan menumpuk di lantai. Itu pertanda walet hanya putar putar saja di nesting room lalu keluar gedung, tidak mau menginap bahkan hanya sekedar transit di twiter tarikpun tak mau. Walet tak betah lama karena kondisi suhu ruang atas yang panas.

Perlu dipahami bahwa saat walet adaptasi pada sebuah gedung, walet akan singgah di twiter tarik lalu terbang pelan masuk ke nesting room yang paling dekat dengan LMB. Ini perilaku walet normal saat adaptasi. Walet masih agak takut menjangkau ruang lain. Secara umum pola adaptasinya seperti ini. Walet pun perlu mengetahui suhu dan kelembapan sebuah gedung yang akan jadi tempat tinggalnya itu sudah oke apa belum. Jika suhu ruang atas oke, walet akan melanjutkan tahap adaptasinya ke ruang lainnya. Namun jika suhu ruang atas panas, walet enggan melanjutkan eksplore ke lantai dan ruangan lainya. Dianggapnya kondisi suhu tiap ruang sama. Maka yang terlihat walet cuma masuk keluar paling lama 1 minggu, lalu akhirnya tak mau datang lagi, tak mau adaptasi lagi.

Pemilik gedung menyangka walet sudah bosan pada suara panggil. Atau suara panggil yang dipancarkan tidak berkualitas. Padahal penyakitnya bukan di audio, melainkan pada kondisi suhu ruang atas yang panas.

Sebentar kontrol lantai atas, lantas saya turun. Panasnya suhu ruangan membuat saya tak betah berlama lama. Demikian pula yang dirasakan burung walet. Karena suhu ruang atas tinggi, walet tak betah adaptasi. Hanya masuk keluar berulang kali, terbang putar putar sebentar di roving room lalu terbang keluar pergi. Walet memang ada yang menginap di ruang lantai dua dan ruang bawah,  tapi tidak sebanding dengan koloni walet yang masuk gedung. Maksud saya, jika ada 20 ekor walet yang adaptasi, hanya beberapa ekor yang turun ke bawah. Sebagian besar walet hanya masuk lalu keluar dan pergi.

” Lalu apa yang harus saya lakukan pak Arief ” tanya Iskandar.

Bagaimana supaya lantai atas tidak panas ?  1). Sebaiknya dipasang atap,  misal dari asbes agar panas matahari tidak langsung menerpa dak tersebut. 2). Dinding luar dicat warna putih atau warna terang untuk menolak panas matahari. 3). Bikin lubang ventilasi agar sirkulasi udara lancar.

“Susah rasanya pak. Sebab terhalang oleh rumah tetangga sebelah. Mau bikin ventilasi, kawatir serpihan bata jatuh ke rumah tetangga, entar bisa menimbulkan konflik”, jawab Iskandar bingung.

“Kalau memang sulit dikerjakan, ruang atas tak perlu dipakai. Tutup saja pintu nesting roomnya dengan tripleks. Jadi walet saat masuk gedung tak lagi belok kanan ke lantai 3, melainkan langsung turun ke lantai 2 atau lantai dasar. Ini lebih efektif karena walet tidak ” terjebak” di ruang lantai tiga yang panas”,  kata saya memberi solusi praktis. Iskandar setuju. Besok tukang segera disiapkan.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 lebih. Saya menuju masjid Al-Hidayah yang jaraknya cuma sekitar 100 meter dari gedung walet Iskandar. Saya shalat jama’ qoshor duhur dan ashar. Habis shalat saya duduk di serambi sambil mengamati langit sekitar.

Hujan gerimis membasahi bumi. Angin sepoi berhembus. Suhu yang semula panas jadi sejuk. Puluhan koloni walet masuk keluar beradaptasi LMB gedung Iskandar di tengah guyuran gerimis ringan siang itu.

Gedung Iskandar satu satunya di lokasi itu atau gedung tunggal. Perkebunan sawit terhampar luas ribuan hektar di sekitarnya. Stok pakan walet berlimpah. Populasi walet ke depan akan terjamin. Tidak jauh dari lokasi, terdapat perusahaan peternakan ayam yang luas. Banyak serangga di lokasi tersebut. Saya memberi motivasi positif dan realistis agar anak muda ini tetap optimis bahwa ke depan, gedung waletnya yang dulu pernah kena musibah akan pulih dan produktif kembali. Amin.

Salam semangat.

Pengunjung Juga Mencari:

  • rumah walet terkecil
  • adaptasi rumah walet yang baru direhab
  • Adaptasi walet terhadap suhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *